Perencanaan Keuangan


By : Uliel Siregar

moneyparachuteDalam kehidupan sering terjadi hal yang tidak diharapkan. Kehilangan pekerjaan, sakit yang membutuhan biaya pengobatan besar, musibah, perbaikan rumah/ kendaraan – semua ini dapat menggoyang perahu keuangan Anda. Dalam kondisi seperti ini, hal terakhir yang bisa Anda lakukan adalah (terpaksa) beralih pada kartu kredit atau pinjaman. Tentunya, langkah berutang ini pun akan menimbulkan masalah baru, yaitu bunga (berbunga).

Di sinilah Anda perlu membekali diri dengan dana darurat. Dari segi arti, dana darurat adalah tabungan yang dapat Anda akses dengan mudah dalam kondisi darurat. Gunanya? Untuk mengantisipasi keadaan tak terduga.

Berapa jumlah dana darurat yang ideal?

Sebagian besar ahli perencanaan keuangan setuju bahwa rumus ideal dana darurat adalah 3-12 X pengeluaran per bulan. Besarnya tergantung kondisi Anda; apakah Anda mempunyai anak/ tidak, atau sedang dalam kondisi berutang/ tidak.

Contoh: jika pengeluaran per bulan Anda Rp 3 juta, maka dana darurat ideal Anda adalah Rp 9-36 juta.

Untuk lebih jelasnya, bisa dilihat tabel di bawah ini:

jlhdanadarurat

Seperti sudah diutarakan di atas, manfaat utama dana darurat adalah untuk mengantisipasi keadaan tak terduga, misalnya kehilangan penghasilan tiba-tiba. Jika Anda atau pasangan di-PHK, sementara masih ada tagihan yang harus dibayar, jumlah uang dalam rekening dana darurat dapat dipakai untuk menutup pengeluaran bulanan. Angka bulan dalam tabel adalah asumsi jangka waktu yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan kembali. Karenanya, saat menyusun rencana, berilah ruang untuk skenario terburuk, sehingga hal darurat yang sifatnya remeh (seperti mengganti AC yang rusak) akan dapat diatasi dengan mudah.

Mulai dari jumlah kecil

Tak perlu risau jika saat ini Anda belum mempunyai dana darurat, atau merasa sulit menabung. Kuncinya sederhana kok: mulailah dari jumlah yang kecil. Jika dikumpulkan secara berkala dan disiplin, jumlah kecil pun lama-lama akan menjadi bukit. Tahu-tahu dana darurat sebesar 12 bulan pengeluaran per bulan Anda telah terbentuk.

Coba mulai dengan 5% dari penghasilan bulanan Anda. Walau jumlah yang ditabung tak bertambah cepat, yang penting Anda mulai menabung dan membuatnya jadi kebiasaan. Setelah beberapa bulan, Anda tidak akan menyadari dana “yang hilang” sampai kemudian Anda terbiasa dan kemudian bisa meningkatkannya menjadi 10% bahkan sampai 30%.

Cara terbaik untuk memulai adalah pergi ke bank, buka akun baru (bila belum punya) dan mulai mengisinya untuk pertama kali. Langkah selanjutnya adalah berdisiplin diri menabung untuk kemudian menjadikannya kebiasaan rutin. Buat jadwal menabung yang teratur; apakah mingguan, dua mingguan, atau sebulan.

Dimana menyimpan dana darurat?

Sebelumnya ada beberapa hal yang harus perhatikan dalam penempatan dana darurat Anda, yaitu:

* harus likuid, artinya mudah dikonversi ke cash
* mudah diakses
* aman, dijamin oleh pemerintah
* nilai pokok tidak berkurang atau mengalami penurunan

Sebagai langkah awal, Anda dapat menempatkannya pada tabungan yang mudah digunakan. Setelah tabungan berkembang, mungkin Anda menginginkan bunga yang rasional sehingga uang Anda tidak tergerus inflasi. Untuk itu, cobalah menempatkan sebagian tabungan Anda pada instrumen pasar uang, deposito atau emas.

Sangat penting untuk menyimpan dana darurat pada instrumen yang sifatnya likuid. Kenapa? Agar Anda dapat mengambil uang tersebut dengan cepat pada saat dibutuhkan. Jangan pernah menempatkan dana ini pada saham atau reksadana karena sifatnya yang volatif (mudah berubah) di pasar, yang dapat menyebabkan Anda kehilangan uang Anda dalam jangka waktu pendek.

Panduan membuat dana darurat:


1. Tentukan besar dana darurat yang diperlukan

Apakah 3, 6 atau 12 kali dari jumlah pengeluaran perbulan. Berapapun itu, pastikan Anda merasa nyaman dengan jumlah tersebut. Jika sudah memutuskan, lanjutkan dengan langkah kedua (lihat tabel). Jika Anda lajang, maka besar dana darurat yang dibutuhkan minimal 3 X pengeluaran perbulan. Jika Anda berkeluarga dengan satu anak, minimal dana darurat 6 X pengeluaran perbulan.

2. Hitung pengeluaran perbulan
Hitung pengeluaran per bulan Anda dengan membuat daftar, mulai dari sewa rumah, makanan, utilitas, cicilan utang, transportasi, asuransi dan semua tagihan yang harus Anda bayar. Gunakan bantuan laporan keuangan bulanan untuk membuat daftar ini. Setelah itu, jumlahkan total pengeluaran Anda dan kalikan hasilnya dengan jumlah bulan yang sudah Anda tentukan sebelumnya. Misalnya, jika Anda masih lajang dengan pengeluaran 3 juta perbulan, maka Anda membutuhkan dana darurat sebesar 9 juta.

3. Buka/ buat rekening terpisah untuk dana darurat
Begitu Anda sudah menentukan jumlah yang akan ditabung, jangan lupa untuk memutuskan tempat menyimpannya. Karena dana darurat harus likuid dan mudah diakses, maka tabungan, pasar uang, deposito dan sertifikat jangka pendek adalah pilihan yang cocok. Selain memberikan likuiditas yang dibutuhkan, instrumen-instrumen ini bisa juga memberikan bunga. Sebagai contoh, tempatkan dana sebesar 1 bulan pengeluaran dalam bentuk tabungan (cash), dana sebesar 2 bulan pengeluaran dalam bentuk pasar uang dan sisanya dalam bentuk deposito.

4. Tentukan berapa besar yang bisa ditabung

Hal ini berlaku bila Anda – seperti banyak orang lain – membutuhkan waktu untuk mengumpulkan dana darurat. Lihat keseluruhan keuangan Anda dan tentukan berapa banyak yang bisa Anda tabung tiap bulan ke pos dana darurat. Bila jumlah yang bisa Anda sisihkan ‘hanya’ Rp 100,000, tak masalah, yang penting Anda sudah memulainya hari ini.

5. Membuat transfer otomatis
Manfaatkan teknologi dan fasilitas perbankan yang semakin mempermudah nasabah. Gunakan fasilitas transfer otomatis ke dana darurat Anda. Oya, jangan lupa untuk memeriksa dan memantau perkembangan uang Anda dari bulan ke bulan.

6. Cari cara untuk meningkatkan kemampuan menabung Anda
Ingin lebih cepat mencapai tujuan keuangan Anda? Temukan cara kreatif untuk meningkatkan keuangan Anda. Hal ini bisa Anda lakukan dengan meningkatkan penghasilan Anda, atau dengan menghilangkan pengeluaran-pengeluaran yang tak perlu.

Dengan persiapan dana darurat, Anda tidak akan perlu khawatir lagi.

Oleh: Uliel Siregar

“Saya ingin sekali berubah dan memperbaiki kondisi keuangan saya tapi saya tidak tahu mulai dari mana.  Saya sudah bekerja selama lima tahun, tapi kalau dipikir-pikir saya belum punya apa-apa. Jangankan mencicil rumah kecil seperti yang dilakukan oleh teman saya, tabungan saja saya tidak punya. Saya tidak tahu kemana uang yang saya cari selama lima tahun ini. Mungkin saya tidak punya motivasi yang kuat untuk menabung.

 

smart1Cerita di atas adalah curhat seorang teman. Tapi kondisi yang sama bukan tdak mungkin terjadi juga pada kita, terutama pada para lajang. Jika Anda sudah berketetapan hati untuk memperbaiki kondisi keuangan, mulailah dari menentukan tujuan keuangan. Ini penting karena aktivitas menabung/ berinvestasi tanpa dibarengi tujuan yang jelas sama saja dengan jalan di tempat. Tujuan keuangan akan membantu Anda mencapai keinginan finansial dengan lebih cepat dan efektif.

Analoginya begini saja. Jika Anda ingin pergi jalan-jalan, apa yang pertama kali Anda lakukan? Menentukan tujuan jalan-jalan Anda, bukan? Apakah ke Bandung atau ke Yogyakarta, misalnya. Setelah itu, barulah Anda menentukan langkah selanjutnya. Apakah akan naik kendaraan pribadi, naik kereta api atau naik travel.

Sama halnya dengan perencanaan keuangan. Tujuan apa yang ingin dicapai dari financial planning yang Anda lakukan? Jika dari awal Anda sudah menentukan tujuan yang ingin dicapai, maka Anda dapat membuat rencana keuangan yang sesuai, untuk kemudian mengimplementasikannya sehingga akhir dari tujuan Anda bisa tercapai dalam waktu yang relatif lebih efektif.

Dalam artikel ini, saya akan mengulas bagaimana menentukan tujuan keuangan.

4 langkah mudah menentukan tujuan keuangan:

1. Mulailah dari bermimpi. Ya, bermimpi. Karena mimpi adalah awal dari perencanaan keuangan. Tanyakan pada diri sendiri apa yang ingin Anda miliki/ raih dan apa yang ingin Anda lakukan dengan tabungan/ investasi Anda. Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan menjadi tujuan keuangan Anda.

2. Tulis semua tujuan keuangan. Apakah dana itu untuk mengirim anak ke universitas terbaik, membeli mobil, mengumpulkan uang muka rumah, biaya menikah, biaya melahirkan, liburan ke luar negeri, membayar kartu kredit, modal buka usaha atau untuk dana pensiun — tulis saja semua. Hal ini, percaya atau tidak, turut memicu semangat kita untuk berusaha meraih tujuan keuangan tadi.

3. Kelompokkan tujuan keuangan Anda berdasarkan jangka waktu. Misalnya jangka pendek (dibawah 1 tahun), jangka menengah (1-3 tahun) dan jangka panjang (diatas 5 tahun). Contoh tujuan jangka pendek adalah, misalnya, melunasi kartu kredit dan biaya melahirkan, sementara contoh tujuan jangka menengah seperti mempersiapan biaya pernikahan dan uang muka rumah. Tujuan jangka panjang bisa diwakili oleh modal membuka usaha setelah pensiun, dana pensiun dan lain-lain.

4. Urutkan tujuan keuangan Anda berdasarkan skala prioritas, dimulai dari tujuan yang paling penting. Adakalanya pendapatan kita terbatas sehingga bisa jadi tidak semua tujuan keuangan bisa terwujud.

Oke, bagaimana dengan tujuan seperti “membeli rumah” atau “melanjutkan S2”? Menurut saya tujuan itu samar-samar dan kurang spesifik untuk membantu membuat banyak perubahan/ perbaikan. Karena itu, dalam menyusun tujuan keuangan, saya mendorong Anda untuk berpegang pada prinsip SMART, yaitu Specific, Measurable, Attainable, Realistic dan Time–based.

S – Specific
Tujuan keuangan harus sedetail mungkin. Tentukan tujuan “menabung untuk uang muka rumah tipe 41/72” sebagai ganti dari “membeli rumah”. Lebih baik lagi jika dibuat lebih spesifik seperti “Menabung untuk uang muka rumah tipe 41/72 dengan meningkatkan tabungan dua kali lipat menjadi 1,2 juta setiap bulan dan mengurangi biaya entertainment seperti ke kafe, nonton ke bioskop dan biaya internet”.

M – Measurable
Tujuan keuangan harus dapat diukur (dalam hal ini, alat ukurnya mata uang). Misalnya, “untuk menabung uang muka rumah sebesar 50 juta”.

A – Attainable:
Tujuan keuangan harus sangat berarti bagi Anda dan dibuat oleh Anda sendiri, bukan oleh orang lain. Tujuan semestinya bisa memberikan inspirasi untuk memotivasi Anda menuju sukses. Jika Anda tidak gigih mewujudkan tujuan Anda, halangan dan tantangan akan sulit terlalui.

R – Realistic
Tujuan harus realistis, bukan merupakan khayalan yang tidak dapat diwujudkan di dunia nyata. Tujuan bisa ambisius, tetapi bukan tidak mungkin diwujudkan. Pilih tujuan dimana Anda yakin bisa meraihnya, tetapi tidak sampai membuat Anda tertekan.

T – Time Based
Tujuan harus memuat jangka waktu yang jelas untuk mencapainya. Anda tentukan waktu yang tepat, semakin cepat semakin baik. Sebagai contoh, “menabung untuk uang muka rumah tipe 41/72 setiap bulan sebesar 1,2 juta selama 3 tahun”.

Kesimpulan
Tujuan keuangan harus detail, dapat diukur, dapat dicapai yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan, masuk akal dan memungkinkan untuk diwujudkan serta memiliki jangka waktu yang jelas untuk mencapainya.

Dari contoh diatas maka tujuan keuangan yang SMART adalah “Menabung untuk Uang Muka rumah tipe 41/72 sebesar 50 juta dengan meningkatkan tabungan dua kali lipat menjadi 1,2 juta setiap bulan selama 3 tahun dan mengurangi biaya entertainment seperti ke kafe, nonton ke bioskop dan biaya internet”.

Tugas untuk Anda
Buat tujuan keuangan Anda, kemudian evaluasi. Apakah sudah cukup spesifik, terukur, bisa dicapai, realistis dan ada jangka waktunya? Jika ya, mulailah melakukannya karena PLAN without ACTION is NOTHING.

“Most people don’t plan to fail; they just fail to plan” (Unknown)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.